Download kitab pdf terlengkap AswajaPedia Klik di sini

MENJAGA HATI Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 3

MENJAGA HATI
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"فـصـلٌ"
وعلى المُريد أن يَجتهِد في حفظِ قَلبه مِن الوَساوِس والآفات الرَّدِيَّة، وليُـقِم على بابِ قَلبه حاجِباً مِن المُراقبة يمنعُها مِن الدخولِ إليه فإنها إن دَخَلته أفسَدتهُ، ويَعـسُر بعد ذلك إخراجها مِنه.

“Fasal”
Seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) hendaknya bersungguh-sungguh dalam menjaga hatinya dari waswas dan penyakit hati yang membinasakan, dan hendaknya ia berdiri di pintu hatinya memperketat pengawasan yang dapat mencegah hal tersebut masuk ke dalam hatinya. Karena jika sampai hal tersebut masuk ke dalam hati ia akan merusaknya, dan setelah itu akan sulit untuk mengeluarkannya dari dalam hati.

وَليُبالِغ في تـَنقِية قَلبه الذي هو مَوضِعُ نَظَر ربِّه مِن المَيل إلى شَـهوات الدنيا، ومِن الحِقد والغِلِّ والغِشِّ لأحدٍ مِن المسلمين، ومِن الظـّـنّ السوء بأحدٍ منهم، وليكُن ناصحاً لهم رحيماً بهم مُشفقاً عليهم، مُعتقداً الخيرَ فيهم، يُحبُّ لهم ما يُحبُّ لنفسه مِن الخير، ويكرهُ لهم ما يكرهُ لِنفسه من الشر.

Hendaknya seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) melebih-lebihkan dalam membersihkan hati yang menjadi tempat penilaian Tuhannya dari cenderung pada kesenangan duniawi, membersihkan hati dari dendam, dengki, dan berbuat curang pada seorangpun dari orang muslim, dan dari berburuk sangka pada seorangpun dari orang mereka.
Dan hendaknya ia menasehati, mengasihi dan menyayangi mereka, meyakini baik pada mereka, mencintai mereka seperti mencintai dirinya sendiri dalam hal kebaikan, dan tidak mencintai mereka (orang-orang muslim) seperti halnya tidak mencitai diri sendiri dalam hal keburukan.

وَلتـَعْلم أيُّـها المُريد أنّ لِلقلبِ مَعاصي هِيَ أفحشُ وأقبحُ وأخبثُ مِن معَاصي الجوارِح ولا يَصلُح القلب لِنزول معرفـَة الله ومحبـَّـته تعالى إلا بعد التـّخلي عنها و التـّخلُّص منها.

Ketahuilah wahai murid (penempuh jalan menuju Allah), sesungguhnya hati memiliki kema’shiatan yang lebih buruk, lebih jelek dan lebih kotor dari kema’shiatan anggota badan, dan tidak pantas hati itu sampai pada derajat “mengenal Allah” dan “mencitai Allah Ta’ala” kecuali setelah bersih hati dari kema’shiatan tersebut dan suci darinya.

فمِن أفحشِها الكِبر و الرّياء والحسد.  فالكِبر يدُ لُّ مِن صاحِبِه على غايةِ الحماقَة، ونهاية الجهالة والغباوةِ، وكيف يليقُ التكـَبُّر مِـمّن يعلم أنّه مخلوقٌ مِن نُطفةٍ مَذِرةٍ وعلى القـُرب يصِير جِيفةً قذِرةً. وإن كان عِنده شيءٌ مِن الفضَائـِل والمحاسِن فذلك مِن فـَضل الله وصُنعه، ليس له فيه قـُدرةٌ ولا في تحصـيله حَولٌ ولا قوةٌ، أوَلا يخشى إذا تكبـّر على عبادِ الله بما آتاه الله مِن فـَضله أن يَسلُبَه ما أعطاهُ بـِسوء أدبِه ومُنازعتِه لِربـِّه في وَصفِه؟ لأن الكـِبر مِن صِفات الله الجـبّار المـُتَـكبّر.

Termasuk paling buruk-buruknya kemaksiatan hati adalah sombong, riya’ (pamer) dan hasad (dengki);
Sombong itu menunjukkan bahwa pelakunya berada di puncak kebodohan dan ketololan, bagaimana kesombongan akan pantas bagi seseorang yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan dari nutfah (air mani) yang menjijikkan dan tidak lama akan menjadi bangkai yang kotor?. Kalaupun ada keutamaan dan kebaikaan padanya, itu merupakan fadol (karunia) dari Allah dan kebaikan-Nya, tidak ada kuasa baginya dan tidak ada daya dan upaya untuk memperoleh hal tersebut. Apakah seseorang tidak takut jika berlaku sombong terhadap hamba-hamba Allah dengan fadol yang diberikan kepadanya, Allah akan mencabut pemberian tersebut lantaran perangai buruknya, dan menyelisihi Tuhannya dalam shifat (Sombong) yang disandang-Nya? Sebab sombong merupakan shifat Allah yang Maha Memaksa dan Maha Sombong.

وأمـّا الرِّياء فيَدُل على خُـلُوِّ قلبِ المـُرائي مِن عظمةِ الله وإجلاله لأنـّه يتصَنَّع و يتـزيَّـن للمخلوقين ولا يقنع بـِعلمِ الله ربِّ العالمين.
ومَن عمـِل الصَّالِحات وأحبَّ أن يعرِفه النـّاس بذلك لِيـُعـظِّموه ويصطنِعوا إليه المعروف فهو مُراءٍ جاهـِلٌ راغـِبٌ في الدنيا، لأن الزّاهد مَن لو أقبَـل النّاس عليه بِالتعظيم وبَذْلِ الأموالِ لكان يُعرض عن ذلك ويَكرهـُه،
وهذا يطلـُبَ الدُّنيا بـِعملِ الآخـِرة فمن أجهلُ مِنهُ؟
وإذا لم يَقدِرْ على الزُّهدِ في الدُّنيا فَيَنبـغي لـَهُ أَن يَطلـُبَ الدُّنيا مِن المالِك لها، وهُوَ الله فإنَّ قـُلوبَ الخـَلائـِق بـِيَدهِ يـُقبـِلُ بها على مَن أقبلَ عليهِ و يـُسخـِّرها لهُ فِيما يشاءُ.

Adapun riya’ itu menunjukkan kosongnya hati orang tersebut dari ke Besaran dan ke Agungan Allah, karena ia berpura-pura dan berhias untuk sesama makhluk dan tidak rela dengan ‘ilmu Allah (bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hatinya).
Barangsiapa yang ber’amal shalih dan ia senang jika manusia mengetahuinya agar mereka menghormati dan berbuat baik kepadanya, maka ia adalah orang yang pamer, bodoh dan senang dengan duniawi. Sebab orang yang zuhud, jika ada manusia yang menghadap padanya dengan rasa ta’dzim dan memberi harta niscaya ia akan berpaling dari hal tersebut dan tidak menykainya.
(Sedangkan orang yang senang di hormat dan diberi harta dengan ‘amal shalihnya), adalah orang yang mencari dunia dengan ‘amal akhirat, adakah orang yang lebih bodoh darinya?.
Apabila seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) tidak mampu berlaku zuhud, maka seyogyanya ia mencari dunia dari pemiliknya, yaitu Allah. Sebab hati seorang hamba itu berada dalam kekuasaan-Nya, Allah akan mendekatkan dunia pada seseorang yang mendekat pada-Nya, dan Allah akan menundukkan dunia padanya selama berkehendak.

و أَمَّا الحَسَدُ فَهُوَ مُعاداةٌ للهِ ظاهِرةٌ، ومُنازعَةٌ له في مُلكِهِ بيِّنةٌ لأنّهُ سُبحانهُ إذا أَنعمَ على بعضِ عِبادِهِ بِنِعمةٍ فلا شكَّ أنّهُ مُريدٌ لِذلكَ ومُختارٌ لهُ إذْ لا مُكرِهَ لهُ تعالى، فإذا أرادَ العبْدُ خِلافَ ما أرادَ مَوْلاهُ فقد أساءَ الأدَبَ، واسْتَوجبَ العَطبَ.

Adapun hasad (dengki) itu menentang Allah secara terang-terangan, dan menyelisihi Allah dalam kekuasaan-Nya secara jelas, sebab ketika Allah memberi ni’mat pada sebagian hamba-Nya dengan suatu ni’mat, maka sudah tidak diragukan lagi bahwa Allah menghendaki dan memilih hal tersebut, karena tidak ada yang dapat memaksa Allah Ta’ala, maka ketika seorang hamba bermaksud menyelisihi pa yang di kehendaki Tuhannya, sesungguhnya ia telah berprilaku buruk dan berhak mendapatkan kehancuran.

ثُمَّ إنَّ الحسَدَ قد يَكونُ على أمُورِ الدُّنيا كالجاهِ والمالِ، وهيَ أصغَرُ مِن أن يُحسدَ عليها بَل ينبغي لكَ أن تَرحمَ مَن اِبتُلِيَ بِها وتَحمَدَ اللهَ الذي عافاكَ مِنها، وقَد يكونُ على أمورِ الآخرةِ كالعِلمِ والصَّلاحِ.

Kedengkian terkadang terjadi pada perkara dunia seperti jabatan atau harta, dan itu merupakan hal terkecil untuk di dengki, bahkan seharusnya engkau mengasihi seseorang yang diuji dengan perkara dunia serta memuji Allah yang telah menyelamatkanmu darinya. Dan kedengkian terkadang juga terjadi pada perkara akhirat seperti ‘ilmu dan kebaikan.

وقَبيحٌ بِالمُريدِ أن يَحسدَ مَن وافَقَـهُ على طَريقِهِ، وعَاونَهُ على أمرِهِ، بل ينبَغي لهُ أن يَفرحَ بهِ لأنَّـهُ صارَ عَوْناً له وجِنساً يتقَوَّى بِهِ، والمؤمِنُ كثيرٌ بِأخيهِ، بل الذي يَنبغي لِلمُريدِ أن يُحِبَّ بِباطِنهِ ويَجتهِدَ بِظاهِرهِ في جَمْعِ النَّاسِ على طريقِ الله والاِشتِغالِ بِطاعتِه ولا يُبالي أَفضلوهُ أم فَضَلهُم فإنَّ ذلِكَ رِزقٌ مِنَ الله وهُو سُبحانَهُ وتَعالى يَختصُّ بِرحمتِهِ مَن يَشاءُ.

Alangkah buruknya, seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) yang mendengki seseorang yang sejalan dengannya serta membantu urusannya, seharusnya ia justru merasa bahagia (dengan adanya seseorang yang sejalan) dengannya, karena ia akan menjadi pendukung dan penguat baginya. Orang mu’min akan semakin banyak jika berjalan bersama-sama dengan saudaranya, bahkan yang di anjurkan bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) adalah merasa senang dengan hatinya dan bersungguh-sungguh dengan dzahirnya di dalam menyatukan orang-orang di atas jalan menuju Allah, dan sibuk dengan ta’at kepada-Nya, tanpa peduli apakah mereka lebih mulia darinya atau ia lebih mulia dari mereka, karena hal itu merupakan rizki dari Allah, dan Allah subhanahu wa Ta’ala berhak menentukan rahmat-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

وفي القَلبِ أخلاقٌ كثيرةٌ مذمومةٌ، لم نذكُرها حِرصاً على الإيجازِ، وقد نـبَّهنا على أمّهاتِها، وأمُّ الجميعِ وأصلها ومَغرِسُها حُبُّ الدُّنيا فَحُبُّها رأسُ كُلِّ خطيئةٍ كما وَرَد، وإذا سَلِم القلبُ مِنهُ فقد صَلحَ وصفا، وتَنوَّر وطابَ، وتأهَّلَ لِوارِداتِ الأنوارِ وصَلُح لِلمُكاشفةِ بِالأسرارِ.

Dan sebenarnya di dalam hati banyak sekali terdapat akhlak yang tercela, aku tidak akan menyebutkan semuanya, aku ingin menuturkannya secara ringkas, dan aku hanya mengingatkan pangkalnya saja. Adapun pangkal dari segalanya, dasar dan tempat tumbuhnya adalah cinta dunia, dan cinta dunia merupakan pangkal dari semua kesalahan sebagaimana yang telah di sebutkan dalam hadits. Ketika hati selamat darinya, ia akan menjadi baik lagi bersih, bersinar lagi bagus, dan ia akan menjadi ahli mendapatkan cahaya Ilahy serta pantas untuk mendapatkan mukasyafah (tersingkapnya hijab) dengan rahasia Ilahy.

Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.