Download kitab pdf terlengkap AswajaPedia Klik di sini

5903. Jika Bayi Belum Dicukur Rambutnya Saat Usia 7 Hari

PERTANYAAN :

اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎
Para admin ijin bertanya mengenai masalah sebagian ilmu syariat islam yg kurang faham. Pertanyaan: Jika ada seorang bayi yang belum dicukur ketika hari ketujuh setelah kelahiran, bolehkah dia dicukur setelah itu? sekian mohon ibarohnya yai. [Yazidbusthamii]

JAWABAN :

Wa 'alaikum salam. Mencukur keseluruhan rambut kepala bayi perempuan maupun laki-laki pada hari ke-7 setelah kelahiran hukumnya adalah sunah, mencukur pada hari ke-7 termasuk kesunahan yang amat sangat.
Jadi kesimpulanya: mencukur pada hari ke-7 itu sunah, mencukur sebelum / sesudah hari ke-7 itu tidak apa-apa, tidak berdosa, bahkan tidak mencukur sama sekalipun tidak berdosa, tapi sayang tidak mendapat pahala besar kesunahan.

وَيُسَنُّ فِي سَابِعِ وِلَادَةِ الْمَوْلُودِ أَنْ يُحْلَقَ رَأْسُهُ كُلُّهُ. وَيَكُونُ ذَلِكَ بَعْدَ ذَبْحِ الْعَقِيقَةِ وَأَنْ يَتَصَدَّقَ بِزِنَةِ الشَّعْرِ ذَهَبًا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ فَفِضَّةٌ.
[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٣٤٤/٤]
قَوْلُهُ: (وَيَكُونُ ذَلِكَ) أَيْ الْحَلْقُ بَعْدَ ذَبْحِ الْعَقِيقَةِ هَذَا يُنَافِي قَوْلَهُ أَوَّلًا عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِهِ إلَخْ وَيُجَابُ بِأَنَّ هَذَا مَحْمُولٌ عَلَى الْأَكْمَلِ.
[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٣٤٤/٤]
(قَوْلُهُ وَأَنْ يَحْلِقَ فِيهِ رَأْسَهُ) فَلَوْ كَانَ أَصْلَعَ فَيُحْتَمَلُ اسْتِحْبَابُ إمْرَارِ الْمُوسَى عَلَى رَأْسِهِ اهـ عَمِيرَةُ قَالَ حَجّ وَقَضِيَّةُ إطْلَاقِهِمْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى
[الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب، ٢٦٦/٥]

Ta'bir Shorih nya :

مَنْ لَمْ يُفْعَلْ بِشَعْرِهِ مَا ذَكَرَهُ يَنْبَغِي لَهُ كَمَا قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ أَنْ يَفْعَلَهُ هُوَ بِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ إنْ كَانَ شَعْرُ الْوِلَادَةِ بَاقِيًا وَإِلاِّ تَصَدَّقَ بِزِنَتِهِ يَوْمَ الْحَلْقِ فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ احْتَاطَ وَأَخْرَجَ الأكْثَرَ

“Siapa yang rambutnya belum ditangani seperti yang disebutkan (dicukur dan disedekahi) maka selayaknya dia melakukan seperti yang disarankan Az-Zarkasyi, bahwa rambutnya dicukur, setelah baligh, jika rambut bawaan lahir masih ada. Jika tidak ada maka dia bersedekah dengan seberat rambut pada saat dicukur. Jika tidak diketahui beratnya, dia mengambil langkah hati-hati, dengan bersedekah lebih banyak.” (Mughni al Muhtaj, IV/373).

Imam Malik didalam kitab Muwatha secara mursal dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya bahwasanya ia berkata :

(وزنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شعر حسن وحسين وزينب وأم كلثوم، فتصدقت بزنة ذلك فضة)،

“Fatimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kulstum, kemudian ia bersedekah dengan perak seberat (rambut yang dipotong).”

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

”Setiap anak tergadai dengan aqîqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama [HR. At-Tirmidzi].

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: لَمَّا وَلَدَتْ فَاطِمَةُ حَسَنًا قَالَتْ: أَلَا أَعُقُّ عَنْ ابْنِي بِدَمٍ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ احْلِقِي رَأْسَهُ ثُمَّ تَصَدَّقِي بِوَزْنِ شَعْرِهِ مِنْ فِضَّةٍ عَلَى الْمَسَاكِينِ أَوِ الْأَوْفَاضِ» ، وَكَانَ الْأَوْفَاضُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجِينَ فِي الْمَسْجِدِ، أَوْ فِي الصُّفَّةِ، وَقَالَ أَبُو النَّضْرِ: «مِنَ الْوَرِقِ عَلَى الْأَوْفَاضِ ـ يَعْنِي أَهْلَ الصُّفَّةِ ـ أَوْ عَلَى الْمَسَاكِينِ» فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، قَالَتْ: فَلَمَّا وَلَدْتُ حُسَيْنًا فَعَلْتُ مِثْلَ ذَلِكَ

Abu Rafi’ berkata, “Ketika Fatimah melahirkan Hasan, Fatimah berkata, “Tidakkah aku mengakikahi anakku dengan menyembelih seekor hewan?” belaiu menjawab: “Jangan, namun cukurlah rambutnya dan bersedekahlah sebesar timbangan rambutnya dengan perak kepada orang-orang miskin dan aufadl, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sedang membutuhkan di dalam masjid, atau di pelataran masjid.” Abu Nadlr menyebutkan, “Dari perak kepada aufadl, yaitu ahli shuffah, atau kepada orang-orang miskin.” Fatimah berkata, “Ketika aku melahirkan Husain aku melakukan hal yang sama.” ( HR. Ahmad, Baihaqi dan Thabrani).
Wallohu a'lam. [Abi Nadhif, Gopur]

LINK ASAL :

Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.